Hadiah
ulang tahun yang diterimanya hari ini memang berbeda. Sella, nama anak
perempuan itu, ia menerima sebuah kado yang berisi…
“Seekor
kucing!” pekiknya gembira ketika membuka kado pemberian ayahnya diluar kota.
Dua tahun yang lalu, ia sudah sangat gembira mendapati seekor anjing Golden
Retriever liar yang tersesat di teras rumahnya. Ia kemudian mengadopsinya dan
memberinya nama Clever. Namun kali ini, Sella lebih dikejutkan dengan hadiah
seekor kucing. Ia menginginkan kucing sejak dulu.
Kucing
putih manis berwarna putih itu mengeong kepadanya.
“Akan
kau beri nama siapa dia?” tanya ibunya.
“Akan
kupanggil dia… Mayer… Mayor… Maid… May… Mayday. Mayday, ya, Mayday. Aku
memberinya nama Mayday,” sahut Sella girang. “Hai, Mayday!”
Kucing
itu berpikir sejenak.
“Mayday?
Apa itu? Apakah Mayday adalah namaku?” ia berusaha bicara, namun bicara itu
hanya terdengar seperti suara kucing mengeong saja.
***
Semenjak
itu, Mayday dan Sella berteman baik. Ia tahu, walaupun Sella tidak mengerti
ucapannya, namun, ia mengerti perkataan Sella. Kini, Mayday sudah empat tahun bersahabat baik dengan Sella. Sementara Clever juga berusia sama dengan Mayday.
"Semoga, tahun keempat ini menjadi tahun terbaik bagi persahabatan kita, ya." ucap Sella.
"Tentu saja, Sella. Aku juga berharap begitu." sahut Mayday. Clever hanya diam saja. Anjing itu memang tidak banyak bicara. Ia terlalu pendiam. "Hei, Clever. Bukankah benar perkataan Sella barusan? Apakah kau tidak setuju?"
"Hmmph..." Clever hanya mendengus.
"Sudah, jangan pedulikan Clever. Kemari, kugendong kau." kata Sella. Gadis cantik berambut hitam itu menggendong Mayday. "Kau sahabat terbaik buatku. Aku tidak ingin berpisah denganmu, Mayday."
"Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, Sella. Aku janji, kau, aku, dan Clever tidak akan berpisah. Selamanya." kata Mayday sambil menjilat pipi Sella.
"Awww, kau memang kucing putih yang manis. Tak salah bila ayahku menghadiahkan dirimu untuk menjadi milikku."
"Terima kasih, Sella. Terima kasih atas semua kebaikanmu."
***
Malam itu, adalah malam yang sangat dingin. Keheningan benar-benar menyelimuti malam itu. Tanpa sedikitpun suara. Hanya suara deburan ombak di pantai dekat rumah Sella. Mayday dan Clever sudah terlelap. Tiba-tiba...
DRRRRR.....
Rumah Sella bergetar. Begitupun dengan rumah-rumah tetangganya. Sella terbangun dari tidurnya. Ombak di pantai mulai ribut pula.
"Apa yang terjadi?!" seru Sella. Namun, orang tuanya sudah pergi ke luar kota siang lalu. "Clever!!!"
"Sella! Apa yang terjadi?!" Clever mendekati Sella.
"Di mana Mayday?!" Sella tak diam saja. Ia langsung menuju kamarnya untuk mengambil Mayday. "Mayday!!!"
"Sella!" Mayday langsung melompat ke pelukan Sella.
"Oh, tidak. Kenapa aku baru menyadarinya? Ini... ini gempa tektonik!"
BERSAMBUNG...



