Jumat, 17 Maret 2017

CAUTION THE WAVE (PART 1): BEST FRIENDS FOREVER





Hadiah ulang tahun yang diterimanya hari ini memang berbeda. Sella, nama anak perempuan itu, ia menerima sebuah kado yang berisi…

“Seekor kucing!” pekiknya gembira ketika membuka kado pemberian ayahnya diluar kota. Dua tahun yang lalu, ia sudah sangat gembira mendapati seekor anjing Golden Retriever liar yang tersesat di teras rumahnya. Ia kemudian mengadopsinya dan memberinya nama Clever. Namun kali ini, Sella lebih dikejutkan dengan hadiah seekor kucing. Ia menginginkan kucing sejak dulu.

Kucing putih manis berwarna putih itu mengeong kepadanya.
“Akan kau beri nama siapa dia?” tanya ibunya.

“Akan kupanggil dia… Mayer… Mayor… Maid… May… Mayday. Mayday, ya, Mayday. Aku memberinya nama Mayday,” sahut Sella girang. “Hai, Mayday!”

Kucing itu berpikir sejenak.

“Mayday? Apa itu? Apakah Mayday adalah namaku?” ia berusaha bicara, namun bicara itu hanya terdengar seperti suara kucing mengeong saja.
***
Semenjak itu, Mayday dan Sella berteman baik. Ia tahu, walaupun Sella tidak mengerti ucapannya, namun, ia mengerti perkataan Sella. Kini, Mayday sudah empat tahun bersahabat baik dengan Sella. Sementara Clever juga berusia sama dengan Mayday. 

"Semoga, tahun keempat ini menjadi tahun terbaik bagi persahabatan kita, ya." ucap Sella.

"Tentu saja, Sella. Aku juga berharap begitu." sahut Mayday. Clever hanya diam saja. Anjing itu memang tidak banyak bicara. Ia terlalu pendiam. "Hei, Clever. Bukankah benar perkataan Sella barusan? Apakah kau tidak setuju?" 

"Hmmph..." Clever hanya mendengus.

"Sudah, jangan pedulikan Clever. Kemari, kugendong kau." kata Sella. Gadis cantik berambut hitam itu menggendong Mayday. "Kau sahabat terbaik buatku. Aku tidak ingin berpisah denganmu, Mayday."

"Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, Sella. Aku janji, kau, aku, dan Clever tidak akan berpisah. Selamanya." kata Mayday sambil menjilat pipi Sella.

"Awww, kau memang kucing putih yang manis. Tak salah bila ayahku menghadiahkan dirimu untuk menjadi milikku."

"Terima kasih, Sella. Terima kasih atas semua kebaikanmu."
***
Malam itu, adalah malam yang sangat dingin. Keheningan benar-benar menyelimuti malam itu. Tanpa sedikitpun suara. Hanya suara deburan ombak di pantai dekat rumah Sella. Mayday dan Clever sudah terlelap. Tiba-tiba...

DRRRRR.....

Rumah Sella bergetar. Begitupun dengan rumah-rumah tetangganya. Sella terbangun dari tidurnya. Ombak di pantai mulai ribut pula.

"Apa yang terjadi?!" seru Sella. Namun, orang tuanya sudah pergi ke luar kota siang lalu. "Clever!!!"

"Sella! Apa yang terjadi?!" Clever mendekati Sella.

"Di mana Mayday?!" Sella tak diam saja. Ia langsung menuju kamarnya untuk mengambil Mayday. "Mayday!!!"

"Sella!" Mayday langsung melompat ke pelukan Sella.

"Oh, tidak. Kenapa aku baru menyadarinya? Ini... ini gempa tektonik!"

BERSAMBUNG...

CERITA BARU: CAUTION THE WAVE



Halo, semuanya!

Kali ini, aku comeback dengan cerita fabel baru yang berjudul Caution The Wave. Cerita ini bercerita tentang seekor kucing bernama Mayday yang harus berjuang mencari majikan dan seekor anjing yang menghilang saat bencana tsunami melanda, walaupun ia tahu nyawa taruhannya. Lantas, apakah Mayday akan bertemu dengan majikan dan sang anjing? 

Cerita ini memperlihatkan kesetiaan Mayday kepada majikannya yang bernama Sella. Ia juga menyayangi Clever, anjing Golden Retriever yang juga tinggal bersama Sella bersama Mayday sendiri. Saat tsunami tiba, Sella dan Clever sudah keburu melarikan diri, sementara Mayday yang hampir ditelan ombak masih berjuang untuk menemukan mereka.

Oke, cerita ini bakalan terbit nanti.

Bye-bye!

Selasa, 14 Februari 2017

WITHY VS. BLACKIE (PART 5)


Entah kenapa daratan Alaska yang beku dan bersalju ini menjadi sunyi. Tanpa sedikitpun suara. Tapi, semua berubah ketika Withy menangis menyesali semua ini. Menangis tanpa suara. Reddie hanya melotot tanpa ekspresi sambil sesekali menyeringai dan mendengking saat Blackie tengah menginjak kepalanya. Serigala hitam jahat itu telah menguras air matanya. 

Sementara Blackie, ia tertawa dan melolong puas menyaksikan saingannya itu dilanda keterpurukan.

“Hahaha… dasar kau serigala lemah! Bisa-bisanya kau menangis dalam keadaan seperti ini. AUUU… hahaha… hahaha… kalau kau memang pemberani, ayo bangkitlah dan lawan aku. Selamatkan temanmu ini dan kembalikan peralatan anehnya itu. Hahaha… AUUU…” Blackie merasa puas. 

Tertawa di atas penderitaan orang lain

Withy mengusap air matanya dan bangkit.
“Sudah cukup, Blackie! Aku tidak ingin ditindas lagi olehmu! Sudah saatnya aku berbalik melawanmu! AUUU…” Withy berdiri tegap di depan Blackie. Blackie mendekati Withy, sementara Reddie mengusap-ngusap jasad tuannya yang tak lagi berbentuk.
“Jadi, kau ingin bertarung, hah?” Blackie menyeringai. Withy memasang ancang-ancang. “GRAARRHH…!!!” Blackie meraung. Mata mereka masing-masing mengkilap sejenak.
“Kau menerima tantanganku juga rupanya. Selamat datang di arena, Alfa,” Withy tersenyum sinis.
“Selamat datang di kuburanmu, Omega rendahan,” Blackie membalas. Suasana hening sejenak. Mereka berpandangan dengan tatapan penuh amarah.

“GRAARRHH!”
“GRAARRHH!”

Pertarungan pun dimulai dengan raungan mereka masing-masing.
BRUAK! PLAK! DUAGH! BUG!
Pertarungan sengit tidak terelakan. Blackie melarikan diri. Withy mengejarnya dengan cepat.
***
“Good luck, boy…” Reddie tersenyum. “Selamat tinggal, Tuan. Aku harus mengurus ini," Reddie berlalu dan memakai kembali perlengkapannya. Ia mengintip dari balik batu yang cukup besar.

"Blackie..." gumamnya. "Awas saja,"
***
"BLACKIE! Kau takut, hah?! Ayo, hadapi aku! GUK-GUK!" seru Withy dengan marah. Namun, Blackie terus berlari menuju wilayahnya.

TAAKK!

Withy memukul kaki belakang Blackie hingga Blackie terguling. Withy menggeram kesal.
"Pembalasan ada di tanganku..." Withy berbisik di telinga Blackie. "Nikmatilah, ini akan sangat mengasyikkan,"
Blackie hanya terdiam sambil menatap tajam Withy. Blackie pun bangkit dan berjalan sambil menunduk.

"Oke, oke, aku menyerah. Kau lebih dominan. Aku tak akan berani melawan serigala dominan sepertimu. Tidak mungkin berani," Blackie tersenyum memohon.
"Aku kurang percaya padamu," sahut Withy dengan tatapan tajam. Matanya benar-benar menyiratkan amarah yang meluap-luap.
"Ya, memang sepatutnya kau tak pernah percaya padaku!" seru Blackie. Ia menerjang tubuh Withy. "Sekarang giliranku tampil! AUUU...!!!" Blackie melolong.

Tiba-tiba, sekawanan serigala hitam datang. Mereka menghajar Withy bersama-sama.
"Lebih asyik kalau keroyokan begini, bukan?" Blackie menyeringai. Withy terguling jauh, sementara sekawanan serigala hitam itu berkerumun di sekitarnya. Blackie mendekati Withy.

"Kau memang tak layak hidup, bukan, Withy?" kata Blackie. Ia mengayunkan telapaknya.
WUUSSHH...
Tiba-tiba...

NGUAANNGG...

Suara sirene mengaum keras dan membuat serangan Blackie tertahan. Kedua serigala itu menoleh.

Reddie yang lengkap dengan perlengkapan pemadam kebakaran yang membebani punggungnya berdiri tegap dari kejauhan dengan mata menyala.

"GROAARR...!!!" ia meraung keras, dan raungan itu sungguh memekakkan telinga. Withy tak sanggup menahan raungan itu. Ia memejamkan matanya dan melipat telinganya. Tiba-tiba...

KRAASSHH...

"Aarrgghh!" erang Withy kesakitan. Reddie menembaki sekawanan serigala hitam itu dengan semprotan airnya. Mereka semua kabur. Kini tinggal tersisa Withy dan Blackie. "Aahh... tidak..." Withy memelas.
BUAK! BUAK!
Blackie masih memukuli Withy dengan telapaknya. Withy meringis kesakitan. Reddie pun berlari mendekatinya, namun Blackie memukul Reddie sampai terpental jauh.

"Kau..." Withy marah. "Kau tak pantas hidup!!!" seru Withy. Ia menghajar Blackie habis-habisan walau ia tahu perutnya mengucurkan darah dalam jumlah banyak karena bekas cakaran keras Blackie tadi.

Blackie terluka parah di sana dan di sini. Kali ini, Withy berhasil merobohkan Blackie dan mencabik-cabiknya seperti karnivora yang tengah menikmati mangsanya.

"Ah... ah... ah..." Blackie terengah-engah. 

BRUAK!
 ***
Reddie mendekati Withy.

"Kau baik-baik saja?" tanya Reddie. Ia menaburkan serbuk ajaib untuk menyembuhkan luka Withy.
"Aku baik-baik saja," sahut Withy. "Dia sudah dikalahkan,"
"Ya, dan dia bukan serigala sejati," Reddie menatap jasad Blackie yang sudah dibunuh oleh Withy. Tewas dalam keadaan mengenaskan. Lehernya menganga lebar dengan kabel-kabel dan gir besi yang mencuat dari lehernya. "Dia robot yang bisa bertransformasi ke dalam bentuk lain," Reddie menjelaskan.

Withy dan Reddie menoleh. Robot-robot dalam berbagai bentuk berjalan menghampiri mereka. Robot hewan dan robot humanoid pun datang. Sebuah robot humanoid berwujud seorang bocah kecil menghampiri mereka.

"Halo, namaku Electric-Bot. Aku siap melayani kalian. Panggil aku E.B," kata E.B sambil membungkuk hormat. Withy dan Reddie tersenyum. "Blackie hanyalah permulaan. Ini adalah sekelompok robot teroris yang akan menyerang dunia yang kita kenal, dan kota yang menjadi pusat perkembangan robot teroris ini adalah..."

"Machine City," Reddie menegaskan. "Aku dibuat di kota itu,"
"Kita harus ke sana sebelum dunia yang kita kenal ini hancur," kata Withy.
TAMAT

Cerita ini adalah permulaan dari cerita bersambung dalam serial terbaru Dixa's Battle: Robots Attack! yang akan segera dirilis di blog It Is My Work. So, ceritanya masih bersambung sama cerita yang itu. Jangan heran kalau ceritanya emang bener-bener nyambung, ya.