"Badai salju bisa diatasi
dengan mudah, Grace, John..." kata Withy. Ia berusaha menenangkan kedua temannya itu.
"Kita tak akan pernah bisa menembus badai salju yang mengerikan ini!" jerit John panik. "Aku akan mati kedinginan... brrr... dingin sekali di sini,"
Withy tidak menghiraukan mereka berdua. "Ayo, jalan!" serunya tegas. Ia berjalan paling depan dengan gaya komandan. Langkahnya mantap dan kepalanya tegak. Ia melotot ke depan, seolah tak peduli akan butiran-butiran salju yang menerpa matanya. Mata biru itu tak henti-hentinya menatap wilayah Alfa serigala hitam yang jaraknya 250 km di depan sana. Walaupun hanya kecil yang terlihat, tetapi mata Withy seolah bisa melihat nyamuk dari jarak 10 mil sekalipun.
***
"Withy... sudahlah, aku kelelahan," keluh John.
"John!" tegur Grace. "Jangan cepat kelelahan! Badai salju sudah berhenti dan kita baru berjalan 5 km saja," Grace menatap tajam John dengan mata kuningnya. Withy tertegun sejenak.
Ada yang tidak beres di sini, batin Withy, Grace tidak mungkin bisa berjalan sejauh ini tanpa kelelahan. Hanya pejantan yang bisa.
Tiba-tiba, dari kejauhan datanglah seekor serigala merah.
sumber: google.co.id
Serigala merah itu menatap Withy tanpa ekspresi. Sebuah kalung berwarna merah dan biru melingkar di lehernya. Sepertinya kalung itu adalah lampu. Tinggi serigala itu 5 cm lebih tinggi daripada Withy.
"Salam kenal, Nak. Namaku adalah Reddie," katanya.
"Aku Withy. Ini Grace dan ini John," jelas Withy. Reddie mengangguk. "Postur tubuhmu lebih kekar dan ideal. Kau juga lebih ramping dan tinggi,"
Reddie memutar matanya sejenak.
"Aku bukanlah serigala sejati. Aku adalah hasil rekayasa genetika buatan manusia. Aku dirancang untuk bertahan hidup dan memiliki tubuh yang tahan akan panas dan api. Sebenarnya aku dibuat untuk menjadi pembantu pemadam kebakaran dengan karakter ramah seperti anjing. Aku cukup baik dalam melaksanakan tugasku," jelas Reddie dengan panjang lebar.
"Begitu, ya? Jadi jika ada kebakaran, kau bisa menolong kami, bukan?" kata Withy.
"Aku siap melayani masyarakat. Akan tetapi, seminggu yang lalu, tuanku tewas karena saat menjelajah hutan, ia diterkam oleh binatang buas. Aku pun kabur ke hutan ini, namun aku tersesat. Terima kasih telah menemukanku, Withy," Reddie tersenyum. Withy membalas senyumannya.
Di punggungnya masih terdapat selang dan satu tabung pemadam yang cukup besar. Reddie mengenakan kostum bertuliskan "FIREFIGHTER". Ia pasti merasa berat dengan perlengkapan yang ia kenakan ini.
"Aku akan merasa terhormat jika bergabung dengan kelompokmu," Reddie menunduk hormat.
"Aku akan menerimamu," sahut Withy.
Tak lama kemudian, malam pun tiba. Mereka beristirahat.
Tak lama kemudian, malam pun tiba. Mereka beristirahat.
***
Suara sirine memekakkan telinga. Cahaya dari sirine menerangi hutan itu. Grace berlari tunggang langgang sambil sesekali menoleh ke belakang. "Si Gila" itu tengah mengejar Grace. Withy terbangun. Suara sirine amat berisik sehingga membangunkannya. Ia melihat siluet dua binatang tengah berkejar-kejaran seru. Withy melihatnya dan mengejar mereka.
BRUAK!
Binatang itu berhasil menjatuhkan "mangsa" yang selama ini ia kejar. Ia menggigit leher mangsanya. Usut punya usut, ternyata itu Reddie yang sedang menggigit leher Grace. Grace tidak tampak ketakutan. Ia bangkit kembali dan bertarung seru dengan Reddie.
"Hei, hei, hei! Berhenti!" seru Withy. Ia menggonggong dan menggeram. Namun, mereka berdua tak henti-hentinya bertarung. "AUUU...!!!" Withy melolong. Akhirnya, Grace dan Reddie pun berhenti bertarung.
"Jangan kau berani melawan atau memberontak lagi! Grrrh..." ancam Reddie sambil memamerkan gigi-giginya yang tajam.
"Kenapa kalian bertarung? Reddie, kenapa kalungmu menyala dan mengeluarkan bunyi yang berisik?" tanya Withy.
"Kalung ini sebenarnya adalah sirine yang biasa ada di mobil polisi, mobil pemadam kebakaran maupun ambulans. Ini sirine-ku yang dibuat menjadi kalung. Aku menggunakan ini untuk memperingati Grace yang kejam ini... GRAR!" Reddie mengancam Grace. Ia mematikan kalungnya.
Kini, Reddie dan Grace saling memarahi dan saling menggonggong satu sama lain. Kuping Withy menjadi panas.
"AUUU...!!! DIAM, SEMUANYA!" seru Withy. Mereka berdua diam walaupun saling melirik kesal. "Ada apa sebenarnya? Sudahlah, kalian membuat suasana menjadi tidak tenang! Grace, kau tidur bersamaku. Reddie, kau tidur bersama John!" bentak Withy.
"Jangan pernah tidur dengan Grace!" seru Reddie marah.
"Terus kau mau apa? Dia tidak jahat! Kau anggota baru di sini, namun kau sudah membuat onar! Bertarung dengan Grace. Apa maksudnya itu? Aku tidak mau bicara denganmu lagi, Reddie! Urus keperluanmu sendiri!" Withy yang sudah terbakar amarah menampar pipi Reddie dengan cakarnya sampai berdarah dengan bekas goresan cakar. Withy meninggalkan Reddie sendirian.
"Kau akan menyesal melindungi dan bersama Grace terus menerus. Lihat saja. Aku sedang berusaha melindungimu, Nak. Jangan menilai serigala dari tampangnya..." Reddie menatap tajam Withy.
BERSAMBUNG...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar