Entah kenapa daratan
Alaska yang beku dan bersalju ini menjadi sunyi. Tanpa sedikitpun suara. Tapi,
semua berubah ketika Withy menangis menyesali semua ini. Menangis tanpa suara.
Reddie hanya melotot tanpa ekspresi sambil sesekali menyeringai dan mendengking
saat Blackie tengah menginjak kepalanya. Serigala hitam jahat itu telah
menguras air matanya.
Sementara Blackie, ia
tertawa dan melolong puas menyaksikan saingannya itu dilanda keterpurukan.
“Hahaha… dasar kau
serigala lemah! Bisa-bisanya kau menangis dalam keadaan seperti ini. AUUU…
hahaha… hahaha… kalau kau memang pemberani, ayo bangkitlah dan lawan aku.
Selamatkan temanmu ini dan kembalikan peralatan anehnya itu. Hahaha… AUUU…”
Blackie merasa puas.
Tertawa di atas
penderitaan orang lain
Withy mengusap air matanya
dan bangkit.
“Sudah cukup, Blackie! Aku
tidak ingin ditindas lagi olehmu! Sudah saatnya aku berbalik melawanmu! AUUU…”
Withy berdiri tegap di depan Blackie. Blackie mendekati Withy, sementara Reddie
mengusap-ngusap jasad tuannya yang tak lagi berbentuk.
“Jadi, kau ingin
bertarung, hah?” Blackie menyeringai. Withy memasang ancang-ancang.
“GRAARRHH…!!!” Blackie meraung. Mata mereka masing-masing mengkilap sejenak.
“Kau menerima tantanganku
juga rupanya. Selamat datang di arena, Alfa,” Withy tersenyum sinis.
“Selamat datang di
kuburanmu, Omega rendahan,” Blackie membalas. Suasana hening sejenak. Mereka
berpandangan dengan tatapan penuh amarah.
“GRAARRHH!”
“GRAARRHH!”
Pertarungan pun dimulai
dengan raungan mereka masing-masing.
BRUAK! PLAK! DUAGH! BUG!
Pertarungan sengit tidak
terelakan. Blackie melarikan diri. Withy mengejarnya dengan cepat.
***
“Good luck, boy…” Reddie
tersenyum. “Selamat tinggal, Tuan. Aku harus mengurus ini," Reddie berlalu dan memakai kembali perlengkapannya. Ia mengintip dari balik batu yang cukup besar.
"Blackie..." gumamnya. "Awas saja,"
***
"BLACKIE! Kau takut, hah?! Ayo, hadapi aku! GUK-GUK!" seru Withy dengan marah. Namun, Blackie terus berlari menuju wilayahnya.
TAAKK!
Withy memukul kaki belakang Blackie hingga Blackie terguling. Withy menggeram kesal.
"Pembalasan ada di tanganku..." Withy berbisik di telinga Blackie. "Nikmatilah, ini akan sangat mengasyikkan,"
Blackie hanya terdiam sambil menatap tajam Withy. Blackie pun bangkit dan berjalan sambil menunduk.
"Oke, oke, aku menyerah. Kau lebih dominan. Aku tak akan berani melawan serigala dominan sepertimu. Tidak mungkin berani," Blackie tersenyum memohon.
"Aku kurang percaya padamu," sahut Withy dengan tatapan tajam. Matanya benar-benar menyiratkan amarah yang meluap-luap.
"Ya, memang sepatutnya kau tak pernah percaya padaku!" seru Blackie. Ia menerjang tubuh Withy. "Sekarang giliranku tampil! AUUU...!!!" Blackie melolong.
Tiba-tiba, sekawanan serigala hitam datang. Mereka menghajar Withy bersama-sama.
"Lebih asyik kalau keroyokan begini, bukan?" Blackie menyeringai. Withy terguling jauh, sementara sekawanan serigala hitam itu berkerumun di sekitarnya. Blackie mendekati Withy.
"Kau memang tak layak hidup, bukan, Withy?" kata Blackie. Ia mengayunkan telapaknya.
WUUSSHH...
Tiba-tiba...
NGUAANNGG...
Suara sirene mengaum keras dan membuat serangan Blackie tertahan. Kedua serigala itu menoleh.
Reddie yang lengkap dengan perlengkapan pemadam kebakaran yang membebani punggungnya berdiri tegap dari kejauhan dengan mata menyala.
"GROAARR...!!!" ia meraung keras, dan raungan itu sungguh memekakkan telinga. Withy tak sanggup menahan raungan itu. Ia memejamkan matanya dan melipat telinganya. Tiba-tiba...
KRAASSHH...
"Aarrgghh!" erang Withy kesakitan. Reddie menembaki sekawanan serigala hitam itu dengan semprotan airnya. Mereka semua kabur. Kini tinggal tersisa Withy dan Blackie. "Aahh... tidak..." Withy memelas.
BUAK! BUAK!
Blackie masih memukuli Withy dengan telapaknya. Withy meringis kesakitan. Reddie pun berlari mendekatinya, namun Blackie memukul Reddie sampai terpental jauh.
"Kau..." Withy marah. "Kau tak pantas hidup!!!" seru Withy. Ia menghajar Blackie habis-habisan walau ia tahu perutnya mengucurkan darah dalam jumlah banyak karena bekas cakaran keras Blackie tadi.
Blackie terluka parah di sana dan di sini. Kali ini, Withy berhasil merobohkan Blackie dan mencabik-cabiknya seperti karnivora yang tengah menikmati mangsanya.
"Ah... ah... ah..." Blackie terengah-engah.
BRUAK!
Reddie yang lengkap dengan perlengkapan pemadam kebakaran yang membebani punggungnya berdiri tegap dari kejauhan dengan mata menyala.
"GROAARR...!!!" ia meraung keras, dan raungan itu sungguh memekakkan telinga. Withy tak sanggup menahan raungan itu. Ia memejamkan matanya dan melipat telinganya. Tiba-tiba...
KRAASSHH...
"Aarrgghh!" erang Withy kesakitan. Reddie menembaki sekawanan serigala hitam itu dengan semprotan airnya. Mereka semua kabur. Kini tinggal tersisa Withy dan Blackie. "Aahh... tidak..." Withy memelas.
BUAK! BUAK!
Blackie masih memukuli Withy dengan telapaknya. Withy meringis kesakitan. Reddie pun berlari mendekatinya, namun Blackie memukul Reddie sampai terpental jauh.
"Kau..." Withy marah. "Kau tak pantas hidup!!!" seru Withy. Ia menghajar Blackie habis-habisan walau ia tahu perutnya mengucurkan darah dalam jumlah banyak karena bekas cakaran keras Blackie tadi.
Blackie terluka parah di sana dan di sini. Kali ini, Withy berhasil merobohkan Blackie dan mencabik-cabiknya seperti karnivora yang tengah menikmati mangsanya.
"Ah... ah... ah..." Blackie terengah-engah.
BRUAK!
***
Reddie mendekati Withy.
"Kau baik-baik saja?" tanya Reddie. Ia menaburkan serbuk ajaib untuk menyembuhkan luka Withy.
"Aku baik-baik saja," sahut Withy. "Dia sudah dikalahkan,"
"Ya, dan dia bukan serigala sejati," Reddie menatap jasad Blackie yang sudah dibunuh oleh Withy. Tewas dalam keadaan mengenaskan. Lehernya menganga lebar dengan kabel-kabel dan gir besi yang mencuat dari lehernya. "Dia robot yang bisa bertransformasi ke dalam bentuk lain," Reddie menjelaskan.
Withy dan Reddie menoleh. Robot-robot dalam berbagai bentuk berjalan menghampiri mereka. Robot hewan dan robot humanoid pun datang. Sebuah robot humanoid berwujud seorang bocah kecil menghampiri mereka.
"Halo, namaku Electric-Bot. Aku siap melayani kalian. Panggil aku E.B," kata E.B sambil membungkuk hormat. Withy dan Reddie tersenyum. "Blackie hanyalah permulaan. Ini adalah sekelompok robot teroris yang akan menyerang dunia yang kita kenal, dan kota yang menjadi pusat perkembangan robot teroris ini adalah..."
"Machine City," Reddie menegaskan. "Aku dibuat di kota itu,"
"Kita harus ke sana sebelum dunia yang kita kenal ini hancur," kata Withy.
TAMAT
Cerita ini adalah permulaan dari cerita bersambung dalam serial terbaru Dixa's Battle: Robots Attack! yang akan segera dirilis di blog It Is My Work. So, ceritanya masih bersambung sama cerita yang itu. Jangan heran kalau ceritanya emang bener-bener nyambung, ya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar