Seekor serigala kelabu cantik sedang berjalan dengan langkahnya yang berlenggak-lenggok. Serigala itu dahulu pernah menjadi hewan peliharaan selama setahun sebelum akhirnya sang majikan melepaskannya ke alam bebas dan kembali bertemu dengan keluarganya. Ia sedang mencari mangsa untuk dijadikan sarapan.
"Rusa karibu... aku ingin rusa karibu..." gumamnya dengan suaranya yang manis. Ia lebih suka berburu sendirian ketimbang berburu dalam kelompok. Serigala betina yang satu ini jauh lebih suka berburu dan berpetualang ketimbang harus berdiam diri di rumahnya. Tiba-tiba, dari kejauhan terlihatlah seekor karibu yang tengah mencari jamur. Tidak, serigala itu tak berniat memangsanya. Ia tahu siapa karibu jantan muda itu. Itu adalah temannya yang bernama John.
"Ah, hei! John! John!" seru serigala itu sambil berlari. Setiap langkahnya dalam berlari selalu memancarkan karisma yang tak biasa. Ia jauh lebih cantik saat berlari ketimbang berdiam diri sambil tersenyum menggoda seperti model.
sumber: google.co.id
"John! AUUU...!!!" serunya kepada John. John menoleh. Ia melihat seekor serigala cantik yang tengah berlari di tengah salju tebal yang putih cemerlang.
"Grace?" gumam John. Ia memicingkan matanya. Serigala bernama Grace itu berhenti tepat di depan John.
"John, apa kau sudah melihat Withy?" tanya Grace.
"Entahlah. Dia tidak kelihatan dari tadi. Biasanya ia sudah berada di hutan ini hanya untuk ngobrol denganku," sahut John.
"Apakah terjadi sesuatu pada Withy?"
"Semoga saja tidak," kata John. "Ada baiknya jika kau mencarinya. Aku pasti akan membantumu dalam hal ini, sis. Pasti," John meyakinkan Grace. Grace tersenyum.
***
Kaki Withy gemetar berjalan di tengah salju ini. Darah terus mengalir dari sekujur tubuhnya. Dirinya tak pernah berhenti memaki-maki Blackie dalam hatinya. Ia berhenti di depan rumahnya. Ibunya keluar dari gua yang dijadikan rumahnya itu.
"Withy! Kau baik-baik saja, nak?" tanya ibunya khawatir.
"Aku... sepertinya aku tidak baik, Bu," sahut Withy dengan bibir gemetar. Ia pun pingsan karena luka-lukanya yang parah. Ibunya sangat khawatir dan meminta para pelayan memberikannya obat.
"Withy! Kau baik-baik saja, nak?" tanya ibunya khawatir.
"Aku... sepertinya aku tidak baik, Bu," sahut Withy dengan bibir gemetar. Ia pun pingsan karena luka-lukanya yang parah. Ibunya sangat khawatir dan meminta para pelayan memberikannya obat.
***
"Ah... tidak... Withy..." Grace tertunduk.
"Ada apa, Grace?" tanya John.
"Withy terluka parah... semuanya gara-gara Blackie," kata Grace. "Aku bisa merasakan keberadaannya. Aku tahu semuanya. Aku tahu semuanya! AUUU!" amarah Grace meluap-luap. Ingin rasanya ia menghajar Blackie yang kurang ajar itu.
"Kau bisa memberi Blackie pelajaran nanti," saran John.
"Ya, akan kuberi dia pelajaran. Pokoknya sampai habis. Kalau bisa aku akan membunuh Alfa keparat itu!" seru Grace sambil menggeram.
"Grace, jangan marah begitu. Aku yakin Withy tidak terlalu terluka parah. Dia kan, terkenal suka memendam penyakitnya. Dia hanya ingin mandiri. Karena dirinya sendiri, pernah sekali dia memendam penyakit sampai hampir mati. Untunglah selamat," John menghela nafasnya. Grace berlari menuju rumah Withy.
"Grace! Tunggu aku!" seru John sambil mengikuti lari Grace. "GRACE!"
***
"Ini obat yang manjur. Berikan saja," saran Ayah Withy. Ibunya menaburkan bubuk berwarna biru ke tubuh Withy. Seketika juga Withy siuman dan luka-lukanya yang parah itu sembuh secara ajaib.
"Ibu? Ayah?" Withy masih bingung.
"Syukurlah, Nak," ibunya amat lega. "Kau pasti dihajar oleh Blackie, bukan?"
"Iya," sahut Withy. Tiba-tiba, Grace dan John sudah tiba di depan pintu. Withy tersenyum. "Aku tak bisa tinggal diam Blackie menghajarku seperti ini. Aku harus membalas dendam kepadanya. Grace, John, kalian ikut?"
Grace dan John saling berhadapan.
"Tentu saja kami ikut!" seru Grace.
***
Malam bulan purnama itu, Withy, Grace, dan John melangkah keluar.
"Kita pasti bisa," Withy meyakinkan. Akan tetapi...
Badai salju yang besar menghadang mereka. "Sial, badai salju!" geram Withy.
Sarang para serigala Alfa itu letaknya sangatlah jauh. Sangat sangat sangat jauh. Tepatnya 100 km dari sini. Grace menyeringai di belakang Withy.
"Jika mereka terus maju, itu adalah ide yang bagus. Sayang sekali mereka tidak pintar-pintar menyelamatkan diri,"
BERSAMBUNG...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar