Selasa, 14 Februari 2017

WITHY VS. BLACKIE (PART 5)


Entah kenapa daratan Alaska yang beku dan bersalju ini menjadi sunyi. Tanpa sedikitpun suara. Tapi, semua berubah ketika Withy menangis menyesali semua ini. Menangis tanpa suara. Reddie hanya melotot tanpa ekspresi sambil sesekali menyeringai dan mendengking saat Blackie tengah menginjak kepalanya. Serigala hitam jahat itu telah menguras air matanya. 

Sementara Blackie, ia tertawa dan melolong puas menyaksikan saingannya itu dilanda keterpurukan.

“Hahaha… dasar kau serigala lemah! Bisa-bisanya kau menangis dalam keadaan seperti ini. AUUU… hahaha… hahaha… kalau kau memang pemberani, ayo bangkitlah dan lawan aku. Selamatkan temanmu ini dan kembalikan peralatan anehnya itu. Hahaha… AUUU…” Blackie merasa puas. 

Tertawa di atas penderitaan orang lain

Withy mengusap air matanya dan bangkit.
“Sudah cukup, Blackie! Aku tidak ingin ditindas lagi olehmu! Sudah saatnya aku berbalik melawanmu! AUUU…” Withy berdiri tegap di depan Blackie. Blackie mendekati Withy, sementara Reddie mengusap-ngusap jasad tuannya yang tak lagi berbentuk.
“Jadi, kau ingin bertarung, hah?” Blackie menyeringai. Withy memasang ancang-ancang. “GRAARRHH…!!!” Blackie meraung. Mata mereka masing-masing mengkilap sejenak.
“Kau menerima tantanganku juga rupanya. Selamat datang di arena, Alfa,” Withy tersenyum sinis.
“Selamat datang di kuburanmu, Omega rendahan,” Blackie membalas. Suasana hening sejenak. Mereka berpandangan dengan tatapan penuh amarah.

“GRAARRHH!”
“GRAARRHH!”

Pertarungan pun dimulai dengan raungan mereka masing-masing.
BRUAK! PLAK! DUAGH! BUG!
Pertarungan sengit tidak terelakan. Blackie melarikan diri. Withy mengejarnya dengan cepat.
***
“Good luck, boy…” Reddie tersenyum. “Selamat tinggal, Tuan. Aku harus mengurus ini," Reddie berlalu dan memakai kembali perlengkapannya. Ia mengintip dari balik batu yang cukup besar.

"Blackie..." gumamnya. "Awas saja,"
***
"BLACKIE! Kau takut, hah?! Ayo, hadapi aku! GUK-GUK!" seru Withy dengan marah. Namun, Blackie terus berlari menuju wilayahnya.

TAAKK!

Withy memukul kaki belakang Blackie hingga Blackie terguling. Withy menggeram kesal.
"Pembalasan ada di tanganku..." Withy berbisik di telinga Blackie. "Nikmatilah, ini akan sangat mengasyikkan,"
Blackie hanya terdiam sambil menatap tajam Withy. Blackie pun bangkit dan berjalan sambil menunduk.

"Oke, oke, aku menyerah. Kau lebih dominan. Aku tak akan berani melawan serigala dominan sepertimu. Tidak mungkin berani," Blackie tersenyum memohon.
"Aku kurang percaya padamu," sahut Withy dengan tatapan tajam. Matanya benar-benar menyiratkan amarah yang meluap-luap.
"Ya, memang sepatutnya kau tak pernah percaya padaku!" seru Blackie. Ia menerjang tubuh Withy. "Sekarang giliranku tampil! AUUU...!!!" Blackie melolong.

Tiba-tiba, sekawanan serigala hitam datang. Mereka menghajar Withy bersama-sama.
"Lebih asyik kalau keroyokan begini, bukan?" Blackie menyeringai. Withy terguling jauh, sementara sekawanan serigala hitam itu berkerumun di sekitarnya. Blackie mendekati Withy.

"Kau memang tak layak hidup, bukan, Withy?" kata Blackie. Ia mengayunkan telapaknya.
WUUSSHH...
Tiba-tiba...

NGUAANNGG...

Suara sirene mengaum keras dan membuat serangan Blackie tertahan. Kedua serigala itu menoleh.

Reddie yang lengkap dengan perlengkapan pemadam kebakaran yang membebani punggungnya berdiri tegap dari kejauhan dengan mata menyala.

"GROAARR...!!!" ia meraung keras, dan raungan itu sungguh memekakkan telinga. Withy tak sanggup menahan raungan itu. Ia memejamkan matanya dan melipat telinganya. Tiba-tiba...

KRAASSHH...

"Aarrgghh!" erang Withy kesakitan. Reddie menembaki sekawanan serigala hitam itu dengan semprotan airnya. Mereka semua kabur. Kini tinggal tersisa Withy dan Blackie. "Aahh... tidak..." Withy memelas.
BUAK! BUAK!
Blackie masih memukuli Withy dengan telapaknya. Withy meringis kesakitan. Reddie pun berlari mendekatinya, namun Blackie memukul Reddie sampai terpental jauh.

"Kau..." Withy marah. "Kau tak pantas hidup!!!" seru Withy. Ia menghajar Blackie habis-habisan walau ia tahu perutnya mengucurkan darah dalam jumlah banyak karena bekas cakaran keras Blackie tadi.

Blackie terluka parah di sana dan di sini. Kali ini, Withy berhasil merobohkan Blackie dan mencabik-cabiknya seperti karnivora yang tengah menikmati mangsanya.

"Ah... ah... ah..." Blackie terengah-engah. 

BRUAK!
 ***
Reddie mendekati Withy.

"Kau baik-baik saja?" tanya Reddie. Ia menaburkan serbuk ajaib untuk menyembuhkan luka Withy.
"Aku baik-baik saja," sahut Withy. "Dia sudah dikalahkan,"
"Ya, dan dia bukan serigala sejati," Reddie menatap jasad Blackie yang sudah dibunuh oleh Withy. Tewas dalam keadaan mengenaskan. Lehernya menganga lebar dengan kabel-kabel dan gir besi yang mencuat dari lehernya. "Dia robot yang bisa bertransformasi ke dalam bentuk lain," Reddie menjelaskan.

Withy dan Reddie menoleh. Robot-robot dalam berbagai bentuk berjalan menghampiri mereka. Robot hewan dan robot humanoid pun datang. Sebuah robot humanoid berwujud seorang bocah kecil menghampiri mereka.

"Halo, namaku Electric-Bot. Aku siap melayani kalian. Panggil aku E.B," kata E.B sambil membungkuk hormat. Withy dan Reddie tersenyum. "Blackie hanyalah permulaan. Ini adalah sekelompok robot teroris yang akan menyerang dunia yang kita kenal, dan kota yang menjadi pusat perkembangan robot teroris ini adalah..."

"Machine City," Reddie menegaskan. "Aku dibuat di kota itu,"
"Kita harus ke sana sebelum dunia yang kita kenal ini hancur," kata Withy.
TAMAT

Cerita ini adalah permulaan dari cerita bersambung dalam serial terbaru Dixa's Battle: Robots Attack! yang akan segera dirilis di blog It Is My Work. So, ceritanya masih bersambung sama cerita yang itu. Jangan heran kalau ceritanya emang bener-bener nyambung, ya.           

Jumat, 10 Februari 2017

WITHY VS. BLACKIE (PART 4)



Matahari mulai menampakkan dirinya beserta sinarnya yang terang benderang. Pagi yang cerah dimulai. Pagi dimana matahari menerangi tumpukan salju yang berkilauan. Daratan Alaska yang dingin kini sedang mempersilahkan tiga ekor serigala dan seekor rusa karibu beristirahat diatas salju yang dingin membeku. Withy membuka matanya perlahan, melihat sekitarnya dengan pandangan yang masih buram.

Dilihatnya Reddie berdiri tegap di pinggir jurang dengan bekas luka cakaran di pipinya dan perlengkapan memadamkan api diatas punggungnya yang mengendur. Ia melolong berkali-kali. Withy berdiri perlahan.

“Apa yang kau lakukan, Bodoh?” tanya Withy ketus. “Kau berusaha memperingatkan kepada serigala lain untuk ikut mengeroyok Grace bersama-sama? Kau memang serigala sialan. Seharusnya aku tak mengizinkanmu bergabung,”
“Kau terlalu mengada-ngada, Withy,” sahut Reddie singkat. “Aku tahu ada segerombolan serigala di sana. Jika itu adalah serigala hitam, maka aku akan memperingatkanmu,” Reddie menatap Withy. Mata kuningnya membesar. Pandangannya teralih kepada serigala yang berdiri di belakang Withy.
“Baiklah, baiklah. Aku tahu yang kau bicarakan. Tapi apa yang kau lihat? Seekor wanita cantik yang tengah berlenggak-lenggok dan tersenyum menggoda?” sindir Withy. Reddie mematung. Ia sama sekali tak bergerak, bahkan ekornya diam tanpa sedikitpun gerakan. Bulu-bulunya juga diam, namun berdiri tegak.
“Sedang mannequin challenge? Setahuku itu adalah tren yang sedang digemari oleh umat manusia. Kau terlalu dekat dengan manusia yang serakah sehingga kau juga ikut-ikutan mempelajari tren mereka yang bodoh dan tidak berguna itu,” Withy terus mengejek Reddie.

“Grace,” kata Reddie singkat. Withy, menyingkirlah. Sesuatu akan terjadi padamu,”

“Huh, kupikir aku akan percaya padamu, Sampah?” Withy lagi-lagi mengejek Reddie.

HUP!

Reddie melompati tubuh Withy. Ia kembali bertarung dengan serigala itu. Withy menoleh. Lagi-lagi itu Grace. Reddie seolah sangat membenci Grace dan ingin ia hilang dari dunia ini.
“Grace!” seru Withy. Withy melihat pertempuran itu. Tapi, Grace sepertinya jauh lebih kuat dari Reddie. Reddie selalu terpojok walaupun ia bangkit lagi dan lagi.
Raungan, gonggongan, geraman, dan dengkingan terus terdengar dalam pertarungan itu. Reddie dan Grace bertarung seru. Withy berusaha menghentikan mereka sebelum ada yang terluka. Ia nekat melompat ke antara mereka berdua.
“Hentikan!” jerit Withy. Ia mengerang kesakitan. Cakaran dan gigitan itu justru mengarah kepadanya. Grace salah sasaran dan justru malah menghajar Withy habis-habisan. Reddie menarik tubuh Withy. “Grace, hentikan, kau menyakitiku!” Withy mengerang.

“Ah, maafkan aku, Withy!” Grace mendekati Withy. “Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk menyakitimu,” Grace meneteskan air mata. John mendekati mereka bertiga dan menolong Withy. Ia menaburkan bubuk ajaib yang dipercaya bias menyembuhkan luka. Withy pun kembali bangkit.
“Tak apa, Grace. Ayo, kita lanjutkan perjalanan,” ajak Withy bersemangat. Mereka kembali berjalan sampai 250 km. Mereka sampai di wilayah serigala hitam. 5 hari perjalanan melelahkan tanpa istirahat. John mulai kelelahan.
“Kalian jalan saja. Aku baik-baik saja…” John berkata dengan suara memelas.
“Baiklah, kau makan saja dulu. Kami akan mencari mangsa dan akan kembali padamu,” Withy tersenyum. Withy, Reddie, dan Grace melanjutkan perjalanan.
***
Withy sangat senang bisa mendapatkan makanan, walaupun itu hanya bangkai seekor bison yang sudah mulai dimakan binatang lain. Ia mengusir rubah dan coyote yang masih memakan bangkai bison itu. Ia memakannya bersama Reddie. Selesai makan, Withy menjilati bibirnya.

“Aku kenyang. Kau juga. Eh? Dimana Grace? Kok Reddie juga menghilang, ya?” Withy kebingungan. Grace berlari mendekatinya.

“Withy! Withy! Tolong aku!” seru Grace. “John tewas… sepertinya dia dimangsa. Untunglah serigala-serigala hitam itu tidak jahat dan bersedia membantu menguburkan jasad John. Ikuti aku!” Grace berlari. Withy masih tidak percaya.
John tewas dimangsa predator lain? Ia menghampiri kawanan serigala hitam yang berkerumun dengan wajah sedih di sekitar jasad John.

“Tidak… John…” Withy sangat sedih. Ia melihat jasad John tergeletak begitu saja dengan bersimbah darah, tubuh yang sudah tercabik-cabik dan tulangnya kelihatan. Robek sana-sini, begitu mengenaskan. “Sekarang di mana Reddie?”
“Entahlah, dia menghilang. Dia sepertinya hilang di arah barat. Dia mungkin berada di dalam hutan,” jelas Grace.

Withy berlari ke dalam hutan yang ditunjuk Grace tadi. Sepanjang perjalanan, ia menemukan perlengkapan Reddie yang berceceran di atas salju. Sepertinya Reddie diserang. 
Tabung pemadamnya, selangnya, kostumnya yang tahan api, dan terakhir, kalung sirene yang mengganggu itu. Withy membawa semuanya dan bermaksud mengembalikan ini kepada Reddie.

"AUUU..." terdengarlah suara lolongan serigala yang sangat dikenali oleh Withy. Suara lolongan Reddie. Ia berlari ke arah sumber suara itu.
***
"Reddie!" Withy berseru girang. Ia telah menemukan Reddie. Namun, ada yang salah dengan Reddie. Sekujur tubuhnya penuh luka. Wajahnya basah oleh air mata. Ia tampak menjilati seonggok daging tercabik-cabik yang sudah tak berbentuk lagi. "Reddie, ada apa denganmu?"
"Tuan... Tuan..." hanya itu yang terlontar dari mulutnya. Ia tengah meratapi jasad tuannya yang mati diterkam binatang buas dan kini tuannya hanya daging tak berbentuk dengan baju berlumuran darah yang compang-camping.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Withy. "Katakanlah, sepertinya ada yang tak beres denganmu,"

Reddie mendengus-dengus. Matanya melotot tanpa ekspresi.

"Grace... Blackie..." hanya itu yang ia katakan sebelum seekor serigala datang dan menginjak kepalanya. "KAAIINNGG... NGIIKK..." Reddie mendengking seperti anjing. Ia tak berdaya. Withy melihat siapa sosok di hadapannya itu.

Seekor serigala hitam berbadan besar dan bermata merah tengah menatap tajam Withy.
"Blackie?" Withy tersenyum sinis. Tubuh Blackie sebesar Grace dan di mulutnya terdapat banyak darah. "Kau... kau memangsa John?"

"Tentu saja... hahaha..." suara tawa Blackie yang mengerikan pecah. "Aku sengaja memancingmu untuk balas dendam kemari. Grace yang selama ini kau percayai tak pernah ada. Grace hanyalah serigala betina yang ada di dalam khayalan John. Dia tak pernah ada. Grace yang selama ini menemanimu adalah... AKU... aku menyamar menjadi Grace. Aku juga yang memangsa pemilik Reddie dan membuatnya terus bertarung denganku. Hahaha..."

"Tidak... tidak... tidak... seharusnya aku tahu akan hal ini. Reddie, maafkan aku..." Withy menangis dengan penuh penyesalan. "Seharusnya aku tak membawa kalian kemari... andai aku tahu Grace adalah Blackie..."
BERSAMBUNG...